Buntut Insiden Pendaratan Darurat Ryanair, Uni Eropa Blokir Semua Maskapai Belarus

Diposting pada

5 Juni 2021 14:30 WIB

Uni Eropa mulai Jumat (4/6) melarang semua maskapai penerbangan asal Belarus untuk terbang di wilayah udara mereka, sebagai bentuk sanksi atas insiden pendaratan darurat pesawat Ryanair ruter penerbangan Athena-Vilnius pada 23 Mei lalu.

Maskapai Belavia asal Belarus (istimewa)

BRUSSELS, JITUNEWS.COM – Semua maskapai penerbangan Belarus mulai Jumat (4/6) kemarin dilarang terbang ke wilayah udara Uni Eropa, dimana hal itu merupakan bentuk sanksi dari Uni Eropa terhadap Belarus atas insiden pendaratan darurat pesawat komersial Ryanair di bandara internasional Minsk pada 23 Mei lalu. Pesawat Ryanair tersebut ditumpangi oleh seorang jurnalis yang juga merupakan tokoh oposisi pemerintahan Lukashenko. Jurnalis tersebut ditangkap usai pesawat Ryanair mendarat.

Dalam sebuah pernyataan tertulis dilansir dari Reuters, Uni Eropa meminta negara anggotanya untuk “tidak memberikan ijin bagi maskapai Belarus untuk melakukan pendaratan atau lepas landas dri wilayah mereka”.

Lembaga Keamanan Aviasi Uni Eropa (EASA) pada Rabu (2/6) mengeluarkan warning bagi semua maskapai Uni Eropa untuk tidak terbang di wilayah udara Belarus kecuali dalam kondisi darurat, guna mencegah insiden yang sebelumnya menimpa Ryanair terulang kembali.

Oposisi Belarus Desak Negara Barat Jatuhkan Tekanan terhadap Presiden Alexander Lukashenko

Uni Eropa dan NATO menganggap langkah pemerintah Belarus “memaksa” pesawat Ryanair dengan rute penerbangan Athena-Vilnius melakukan pendaratan darurat untuk menangkap jurnalis Roman Protasevich tersebut merupakan tindakan “pembajakan” yang tidak bisa ditolerir.

Sementara itu, Presiden Belarus Alexander Lukashenko mengatakan bahwa Protasevich adalah salah satu tokoh yang merencanakan gerakan pemberontakan terhadap pemerintahannya, dan menuding negara-negara barat tengah berupaya memicu sebuah perang “hybrid” terhadap pemimpin otoriter terakhir di benua biru tersebut.

Keputusan Uni Eropa tersebut menuai kritikan dari Industri Penerbangan Global (IATA). Mereka menilai kebijakan Uni Eropa tersebut akan membuat penerbangan dari wilayah Asia akan memakan waktu yang lebih lama dan harga yang lebih mahal.

WHO Bilang Anak-anak Bukan Prioritas dalam Program Vaksinasi Covid-19

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *