Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) 2021, Commit to Quit versus Never Quit

Diposting pada

Thema Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) Tahun 2021 adalah “Commit To Quit”, terjemahan google-nya “Berkomitmen Untuk Berhenti (Merokok)”. Dalam teks yang diedarkan Kemenkes RI diterjemahkan dengan tema “Berani Berhenti Merokok Apapun Jenisnya”.

Disisi lain, masyarakat sejak lama sudah membaca pesan-pesan iklan diberbagai tempat dan media yang mengiklankan Rokok dengan jargon, motto atau slogan “Never Quit” yang diterjemahkan Google sebagai “Tidak Pernah Berhenti”. Itu bisa diartikan sejalan dengan gambar tayangan iklannya nya yang atraktif. Bagi kaum muda dan milenials, gambar iklan itu boleh jadi sangat memotivasi.

Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) yang jatuh pada 31 Mei, untuk kedua kalinya diperingati dimasa Pandemi Covid-19. Infeksi Covid-19 ditandai dengan terjadinya serangan khas Virus Covid-19 ke daerah paru melalui hidung dan mulut, sehingga dalam rentang 14 hari sejak terinfeksi terjadi infeksi paru yang luas, sesak nafas yang sangat, diikuti terjadinya fibrosis paru, dan apabila virus sudah “menguasai” paru, terjadilah gagal nafas dan kritis.

Juarai Trofeo Bhayangkara 2017, Arema : Pertandingan Sesuai Dengan Harapan

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia, pada kesempatan memberi sambutan dalam Webinar kanal-kesehatan.com dan GOLansia.com menggambarkan ke-kritisan-an akibat Covid-19, mengatakan “ketika saya terinfeksi virus Covid-19, saya merasakan
betul tidak ada artinya semua yang kita miliki, apakah itu harta maupun jabatan. Kesehatan adalah investasi yang tak tergantikan”.

Ada lebih 30 Hari Peringatan Tahunan terkait Kesehatan dan Penyakit, di Bulan Mei saja ada beberapa seperti Hari Asma Sedunia (5 Mei), Hari Palang Merah Sedunia (8 Mei), Hari Thalasemia Sedunia (8 Mei), Hari Lupus Sedunia (10 Mei), Hari Hipertensi Sedunia (17 Mei), Hari Lanjut Usia Nasional (29 Mei) dan Hari Tanpa

Tembakau Sedunia (31 Mei). Setiap Bulan ada hari-hari peringatan Kesehatan. Mengapa begitu banyak hari yang diperingati di bidang Kesehatan? Tentu sangat beralasan dunia dan manusia memperingati hari-hari Kesehatan.

Karena anugrah kedua yang kita terima dari Sang Pencipta, setelah tubuh dan ruh yang sempurna, adalah kesehatan. Yang dengan itu kita bisa menjalankan segala mimpi dan impian sebagai pengejawantahan manusia untuk menjalankan Perintah (hidup bahagia, menjadi rahmat bagi sekalian alam) dan menjauhi LaranganNya (hidup tidak belajar, miskin dan koruptif).

Dan dibalik semua itu ada kebahagiaan yang dijanjikanNya, yaitu Kebahagiaan di Dunia dan kebahagiaan abadi di Akhirat. Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat saling terkait, gagal menjaga kebahagiaan di Dunia, akan mengganggu pencapaian harapan di Akhirat.

Hubungan Rokok dan Kasus Covid-19

DR.Dr.Trihono.MSc (Konsultan Senior Kemenkes/Mantan Kepala Balitbangkes Kemenkes) dalam kesempatan Webinar kolaborasi GOLansia.com dan kanal kesehatan.com yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Lanjut Usia Nasional tahun 2021 yang jatuh pada tanggal 29 Mei, menyampaikan 4 kondisi Keterancaman komunitas lanjut usia terhadap Virus Covid-19, yaitu Metabolisme dalam tubuh yang makin menurun sehingga mudah terkena penyakit, Daya tahan tubuh yang lemah sehingga proporsi terinfeksi dan kematian yang sangat tinggi dibanding usia muda, Banyaknya lansia dengan Komorbiditas (seperti Hipertensi, Diabetes, Penyakit Jantung, Penyakit Paru/Tuberkulosis dll) yang memperburuk mereka yang terinfeksi virus Covid-19. Dan Lansia memiliki tingkat fatalitas 4 (empat) kali lebih berbahaya dan berakibat kematian pada kasus terinfeksi Covid-19.

Data lain menyebutkan bahwa Kematian akibat infeksi Virus Covid-19, 3 terbesarnya adalah karena Diabetes (9,8%), Hipertensi (9,2%) dan Penyakit jantung (5,5%). Ternyata Komorbiditas atau penyakit penyerta penyebab terbanyak kematian pada kasus terinfeksi Covid-19 yang terbesar ada hubungannya dengan Merokok dan Asap Rokok.

TransTV pernah mengungkapkan bahaya tembakau/rokok. Sekitar 8 juta orang di Indonesia setiap tahunnya meninggal karena rokok. 7 juta diantaranya karena akibat langsung merokok dan 1 juta lainnya karena paparan asap rokok. Duapertiga kasus kanker paru didunia, meninggal karena rokok. 20% penderita Tuberkulosis (penyakit paru kronis yang terus menggerogoti fungsi paru dan daya nafas) adalah akibat rokok. Sekitar 165.000 anak usia dibawah 5 tahun meninggal karena paparan asap rokok. Asap rokok mengandung asekitar 7.000 senyawa kimia dan 69 bahan berbahaya lainnya yang semua memicu bahaya kanker.

Asap rokok menimbulkan polusi udara, terutama di ruang publik dan bahkan dibanyak rumah kediaman keluarga. Asap rokok menempel selama 5 jam. Bahkan sebahagian ahli mengatakan partikel nikotin penyebab penyakit menempel pada dinding rumah dan berbagai barang bisa tahunan lamanya, sehingga masa keterpaparan orang dalam suatu tempat cukup lama dan massif. Tidak mengherankan jika angka kejadian penyakit kanker dan berbagai penyakit lainnya seperti Penyakit Jantung dan Penyakit paru lainnya meningkat tajam.

Indonesia kini menjadi Negara ketiga terbanyak perokoknya didunia setelah Cina dan India. Sungguh ini bukan prestasi. Tetapi lebih menggambarkan pemborosan, ketidaktahuan, dan ketidakpedulian. Naifnya, kelompok perokok terbanyak berada pada mereka yang berpendapatan rendah dan sangat rendah.

Seluruh kondisi diatas terjadi secara massif karena perilaku sebahagian perokok yang sangat buruk, seperti merokok disembarang tempat, tidak peduli sekelilingnya sekalipun ada anak-anak bahkan bayi dan wanita. Merokok dalam mobil, sementara ada keluarga yang dikasihinya didalamnya. Sebahagian besar lupa bahwa, perokok mendapat sisi rokok yang berfilter, sedangkan keluarga dan rekan sekeliling mendapat asap rokok tanpa filter.

Perlu penelitian lebih mendalam, mengapa jumlah kasus keterpaparan Covid-19 di Indonesia terus meningkat dan belum menunjukkan tren berhenti apalagi menurun. Angka kematian rata-rata perhari juga tidak menunjukkan penurunan. Sementara wilayah zona merah pun semakin meluas.

Dr.Erlina Burhan,Sp.P, anggota Satuan Tugas Waspada dan Siaga Covid-19, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengingatkan salah satu kelompok yang rentan terinfeksi virus corona adalah perokok. Karenanya kebiasaan merokok perlu segera dihentikan, terutama pada masa pandemi Covid-19 ini.

Belum lagi fakta bahwa seorang perokok memiliki reseptor protein ACE-2 ‘yang dibutuhkan virus Covid-19 untuk bisa menginfeksi suatu sel’ di dalam tubuhnya lebih banyak. Lalu, kebiasaan merokok yang menjadi sangat berisiko menjadi transmisi virus dari tangan ke mulut atau saluran pernapasan (Tempo.co)

Segawat Apa Situasi Dunia Rokok, Merokok dan Asap Rokok

Kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia tahun ini oleh Kemenkes RI di-tema-kan “Berani Berhenti Merokok Apapun Jenisnya”. Mengapa ada istilah apapun jenisnya?. Selama ini dikenal sekitar 10 (sepuluh) jenis rokok dipasar umum maupun didaerah tertentu, seperti rokok lintingan daun tembakau, rokok putih dan cerutu. Kini muncul Rokok Elektrik (e-cigarette). Ini jenis terbaru yang melesat jumlah
penggunanya. Rokok Elektrik yang baru dikenal beberapa tahun terakhir, ternyata sudah merebut pasar pengguna yang signifikan.

Data yang di publish Center for Indionesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) pada pertengahan 2020 untuk wilayah Jakarta, 55,79% perokok pemula menggunakan rokok elektrik dan 44,21% rokok konvensional.

Devhy dan Yundari (2017) meneliti Perilaku perokok elektrik aktif pelajar SMA di kota Denpasar, Bali mencapai 61,38%, suatu angka yang cukup tinggi. Sementara itu Kurnia dkk (2017) melaporkan bahwa Prevalensi anak sekolah di Surabaya yang merokok konvensional (32,98%) hampir sama dengan pe-rokok elektrik (30,50%).

Proses sebarannya sangat massif melalui teman (57,02%) yang berawal dari rasa penasaran dan ajakan teman. Sedangkan dorongan menggunakan rokok elektrik karena ajakan kawan mencapai 77,8%, sedangkan tertarik karena melihat orang menggunakan rokok elektrik mencapai 7,1%.

Masih ingat tayangan slogan “Vape Shop : Stop Smoking and Start Vaping”. Cepat maraknya penggunaan rokok elektrik karena asumsi yang beredar di masyarakat bahwa rokok elektrik itu aman, bahkan disebutkan dapat menjadi terapi membantu program berhenti merokok. (GYTS, 2014).

Penelitian yang dikumpulkan Vansickel et al tahun 2010, menemukan bahwa rokok elektrik meningkatkan kadar plasma nikotin, kadar plasma CO (Carbon Monoksida) serta menaikkan frekuensi nadi sejak 5 menit penggunaannya, yang tentu bisa mengancam bagi siapa saja yang punya masalah dengan penyakit pembuluh darah dan penyakit jantung, yang berdasar data Riskesdas 2018 jumlahnya sangat banyak dan sebahagian besar tidak menyadari masalah kesehatannya. Saatnya tertib dan bertanggung jawab untuk masa depan

Setiap tahun 8 juta perokok meninggal akibat penyakit yang disebabkan oleh tembakau. Tembakau menyebabkan 20 jenis kanker. Perokok memiliki risiko hingga 2 kali lipat terkena stroke dan empat kali lipat mengidap penyakit jantung. Berhenti merokok menurunkan risiko terkena stroke, kanker, penyakit jantung, dan gejala COVID-19 yang parah serta mematikan.

RENUNGAN

Banyak kita melihat pemuda usia belia baik pria maupun juga wanita menjadi perokok. Banyak pula anak usia dini sudah terpapar asap rokok. Semua akan menjadi jejak awal atau embrio kemunculan berbagai penyakit tidak menular seperti Penyakit Paru, Ashma, Penyakit Jantung, Penyakit Ginjal dan juga Kanker yang menghabiskan energy, waktu, uang dan penderitaan panjang, yang menggerus banyak kesempatan emas dimasa hidupnya.

Adakah kepedulian untuk mereka?

Pertanyaan bathiniah, Apakah kita masih punya kesempatan untuk menjadi Perwira TNI/Polri atau Pilot Pesawat, atau bisakah menjadi Gubernur? Menjadi Menteri? Bahkan menjadi Presiden?

Mungkin dan sangat mungkin semua kita akan mengatakan “Tidak Mungkin”.

Sekarang kita buat pertanyaan baru, Apakah bayi-bayi, balita-balita, anak-anak putra putri usia muda yang ada di desa, di gunung, di sawah, di pondok, maupun di kota bisa menjadi Presiden?… Semua akan menjawab serentak mengelegar “Bisaaa…”.

Bisakah kita mulai untuk Merokok sebagai keputusan cerdas dan waras?, dan jika merokok bertanggungjawab terhadap diri, keluarga dan lingkungan?, Dan menyadari pula bahwa biaya akibat rokok jauh lebih besar dari seluruh pencaharian dan menggerus biaya kesehatan (BPJS) yang sesungguhnya adalah hak kita bersama termasuk yang tidak merokok !!.. Saatnya berani berhenti merokok, apapun jenisnya (Commit to Quit).

Penulis: Dr.Abidinsyah Siregar,DHSM,MBA,MKes;

Ahli Utama BKKBN dpk Kemenkes/ Deputi BKKBN 2014-2017/ Komisioner KPHI 2013-2019/ Sekretaris KKI 2006-2008/ Kepala Pusat Promkes Depkes RI 2008-2010/ Ses.Itjen Depkes 2010-2011/ Direktur Bina Yankes Tradkom Kemenkes 2011-2013/ Alumnus Public Health Management Disaster, WHO Searo, Thailand/ Mantan Ketua MN Kahmi/ Mantan Ketua PB IDI/ Ketua PP IPHI/ Ketua PP ICMI/ Ketua PP DMI/ Waketum DPP JBMI/ Ketua PP ASKLIN/ Penasehat BRINUS/ Penasehat Klub Gowes KOSEINDO/ Ketua IKAL FK USU/ Ketua PP KMA-PBS/ Penasehat PP PDHMI/ WaKorbid.Orbida dan Taplai DPP IKAL-Lemhannas/ Pengasuh media sosial GOLansia.com dan Kanal-kesehatan.com

Yuk, Ikutan Kuis Silver Queen Share Your Love!

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *