Koruptor Dibina Pegawai Ditendang, Febri Diansyah ke KPK: Logika Woy!

Diposting pada

Kebijakan KPK di bawah kepemimpinan Firli Bahuri tergolong tak masuk akal.

JAKARTA, JITUNEWS.COM – Mantan juru bicara KPK Febri Diansyah ikut angkat bicara terkait ironi pembinaan narapidana koruptor agar bisa menjadi penyuluh anti-korupsi. Di sisi lain, 51 dari 75 pegawai KPK yang dinilai berintegritas, justru bakal ditendang karena tak lolos tes wawasan kebangsaan (TWK).

“Napi Koruptor dibina biar bisa jadi penyuluh antikorupsi. Sementara, pegawai KPK yang nangkapin koruptor-koruptor gede disingkirkan,” ujarnya melalui akun Twitter @febridiansyah, dikutip Sabtu (29/5).

Febri menilai kebijakan KPK di bawah kepemimpinan Firli Bahuri tergolong tak masuk akal. “Logika Wooy,” tegasnya.

Pengamat: Membiarkan Firli di KPK Sama Saja Mencoreng Nama Polri

Diketahui, 51 dari 75 pegawai KPK diberhentikan karena tak lolos TWK dan tak bisa dibina lagi. Sementara itu, narapidana tipikor dapat menjadi penyuluh antikorupsi setelah bebas.

Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK Wawan Wardiana menyebut napi kasus korupsi sebagai penyintas. Sehingga, pengalaman selama mendekam di lembaga pemasyarakatan dapat dibagikan ke masyarakat.

“Masyarakat apa pun juga, termasuk di lapas yang kebetulan punya pengalaman, penyintas korupsi, sehingga diharapkan dengan pengalaman yang mereka dapatkan bisa di-sharing,” ujar Wawan di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Rabu (31/3).

KPK berharap pengalaman yang dibagikan napi koruptor dapat mencegah praktik korupsi. Dengan begitu, upaya pemberantasan korupsi melalui aspek pencegahan bisa terwujud.

“Calon-calon (koruptor) kita harapkan tidak jadi punya niat setelah dengar testimoni dari para warga binaan, harapannya pengalaman-pengalaman itu bisa diterima oleh masyarakat lain dan tidak jadi melakukan korupsi,” jelas Wawan.

Klaim Perjuangkan 75 Pegawai yang Tak Lolos TWK Jadi ASN, Pimpinan KPK: Tapi…

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *