Soal Antigen Palsu, PKB: Bio Farma Harus Bekerja Secara Hati-hati, Jangan Munculkan Kontroversi

Diposting pada

BUMN yang bergerak dibidang farmasi diingatkan untuk tidak bekerja secara sembrono

JAKARTA, JITUNEWS.COM– BUMN yang bergerak dibidang farmasi diingatkan untuk tidak bekerja secara sembrono, termasuk bekerja dengan memunculkan kontroversi di masyarakat.

Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Nasim Khan menegaskan bahwa BUMN Farmasi harus bekerja secara berhati-hati.

“Jangan mempermainkan masalah keumatan, apalagi ini menyangkut kesehatan khususnya soal vaksin dan antigen. Saya minta bekerja lebih berhati-hati, jangan memunculkan kontroversi,” ujar Nasim di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (25/5/2021).

Ribuan Pemudik Terpapar Covid-19, Cak Imin: Tolong Jangan Memaksakan Diri

Politisi PKB ini menyinggung isu global soal Covid-19 yang membuat masyarakat dibawah kelimpungan karena terdampak langsung.

Di saat kondisi demikian, kata Nasim, semestinya instansi terkait bekerja dengan hati-hati agar masyarakat yang tengah didera pandemi tercerahkan.

“Harus ada komunikasi, koordinasi yang baik. Sebab apa? Sebab kasus ini bisa kami katakan adalah kedholiman, gara-gara antigen palsu masyarakat menjadi korban,” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengungkapkan, Indonesia baru saja menerima vaksin Covid-19 tahap ke-13 sebanyak 8 juta dosis. Vaksin produksi Sinovac itu dalam bentuk bulk atau bahan baku untuk kemudian diproduksi oleh Bio Farma.

Dengan tambahan 8 juta dosis vaksin Sinovac tersebut, total bahan baku vaksin yang sudah diterima Bio Farma sebanyak 73,5 juta dosis vaksin. Dari jumlah tersebut, sudah diproduksi sebanyak 51,3 juta dosis vaksin yang siap disuntikkan.

“Yang sudah diproduksi Bio Farma ada 51,3 juta dosis, dan kita sudah dapat rilis dari BPOM 33 juta dosis. Masih ada 18,35 juta dosis lagi yang masih dalam proses rilis BPOM. Untuk total vaksin produksi Bio Farma yang sudah didistribusikan ke seluruh provinsi di Indonesia sebanyak 32,3 juta dosis,” kata Honesti.

Bila digabungkan dengan vaksin jadi, yaitu 3 juta dosis vaksin Sinovac dan 4,5 juta dosis vaksin Astrazeneca, total yang sudah didistribusikan sebanyak 39,8 juta dosis. Sedangkan realisasi sampai saat ini adalah 24,9 juta dengan rincian SDM kesehatan 1,5 juta dosis pertama dna dosis kedua 1,4 juta, lansia dosis pertama 3,1 juta dan dosis kedua 2,1 juta, lalu petugas publik vaksinasi dosis pertama 10,4 juta dan dosis kedua 6,5 juta.

Honesti mengungkapkan, Bio Farma juga telah membuat rencana produksi dan juga rilis produksi. Total yang akan diberikan kepada pemerintah untuk program vaksinasi hingga Oktober 2021 sebanyak 125,5 juta dosis, terdiri dari 3 juta dosis vaksin jadi dan 122,5 juta dosis vaksin yang diproduksi Bio Farma.

“Dari informasi yang kami sampaikan sebelumnya, total kapasitas produksi kami 250 juta dosis per tahun. Tetapi dari beberapa proses SOP yang dilakukan perbaikan untuk efisiensi, kapasitas bisa ditingkatkan menjadi 267,7 juta dosis per tahun,” kata Honesti.

Jajaran Direksi KFD Dipecat, Kasus Antigen Bekas Harus Tetap Diusut Tuntas

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *